Sumbawa, 25 Mei 2026 — Keselamatan menjadi salah satu aspek penting dalam pelaksanaan kegiatan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan, khususnya bagi kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) yang melakukan aktivitas langsung di wilayah pesisir dan laut. Untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat, Yayasan Bentang Alam Nusantara memfasilitasi Pelatihan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan Laut bagi Pokmaswas dan sejumlah pemangku kepentingan di Kabupaten Sumbawa.
Kegiatan yang dilaksanakan di Room Meeting Millie Style Hotel dan Kolam Renang Sering Sumbawa pada 25 Mei 2026 ini mempertemukan berbagai pihak yang memiliki peran dalam pengawasan dan keselamatan aktivitas di wilayah pesisir dan laut.
Pelatihan diikuti oleh 32 peserta, terdiri atas perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumbawa, BLUD UPTD BPSDKP Sumbawa–Sumbawa Barat, Basarnas wilayah Sumbawa, WCS, Yayasan Bentang Alam Nusantara, serta sejumlah Pokmaswas dan kelompok boatman. Dari keseluruhan peserta, tercatat 29 laki-laki dan 3 perempuan.

Keselamatan sebagai Bagian dari Pengawasan
Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang besar. Wilayah pesisir dan laut menjadi ruang penting bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas perikanan, sekaligus menjadi kawasan yang memiliki nilai ekologis melalui keberadaan terumbu karang, padang lamun, mangrove, dan berbagai jenis biota laut.
Di tengah aktivitas tersebut, Pokmaswas memiliki peran penting dalam membantu pemerintah melakukan pengawasan terhadap pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan. Kedekatan mereka dengan wilayah pengelolaan serta pengetahuan lokal yang dimiliki menjadi modal penting dalam mendukung pengawasan berbasis masyarakat.
Namun, aktivitas pengawasan di laut juga memiliki risiko keselamatan. Pokmaswas dapat menghadapi berbagai kondisi darurat ketika menjalankan kegiatan di lapangan, sehingga kemampuan memberikan pertolongan awal menjadi salah satu kapasitas yang penting untuk dimiliki.
Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam memberikan pertolongan pertama, sekaligus mendorong penerapan prinsip keselamatan dalam setiap aktivitas pengawasan di wilayah pesisir dan laut.
Belajar melalui Materi dan Praktik Langsung
Pelatihan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi di dalam ruangan. Peserta juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung teknik penyelamatan dan pertolongan pertama.
Materi yang diberikan mencakup prinsip dasar pertolongan pertama pada kecelakaan laut, identifikasi kondisi darurat, penanganan awal korban, serta langkah yang perlu dilakukan sebelum korban mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Pada sesi praktik di kolam renang, peserta melakukan simulasi penyelamatan korban tenggelam dan prosedur evakuasi yang aman. Metode pembelajaran yang memadukan materi, diskusi, simulasi, dan praktik langsung memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami penerapan pertolongan pertama dalam situasi yang menyerupai kondisi lapangan.
Salah satu materi penting dalam pelatihan adalah Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP). Peserta diperkenalkan dengan konsep dasar dan tahapan CPR/RJP sebagai salah satu tindakan pertolongan pada kondisi henti napas dan henti jantung.
Peserta kemudian melakukan simulasi CPR/RJP di bawah pendampingan instruktur. Kegiatan ini diharapkan memberikan bekal praktis bagi peserta agar mampu mengenali kondisi darurat dan melakukan tindakan awal sesuai prosedur keselamatan sebelum bantuan medis tiba.
Pengetahuan Peserta Mengalami Peningkatan
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti pelatihan.
Pada materi Pertolongan Pertama (P3K), rata-rata nilai pre-test peserta tercatat sebesar 51 persen, kemudian meningkat menjadi 74 persen pada post-test. Dengan demikian, terdapat peningkatan sebesar 23 poin, atau sekitar 44 persen dibandingkan nilai awal.
Sementara itu, pada materi CPR/RJP, rata-rata nilai peserta meningkat dari 60 persen pada pre-test menjadi 81 persen pada post-test, atau mengalami peningkatan sebesar 21 poin, setara dengan sekitar 35 persen dibandingkan nilai awal.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai prinsip dasar pertolongan pertama, penanganan awal korban, serta tahapan bantuan hidup dasar melalui CPR/RJP setelah mengikuti rangkaian materi dan praktik.
Membangun Kesiapsiagaan dan Kolaborasi
Selain meningkatkan kapasitas individu, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi antarlembaga. Pertemuan antara Pokmaswas, Basarnas, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumbawa, BLUD UPTD BPSDKP Sumbawa–Sumbawa Barat, Yayasan Bentang Alam Nusantara, WCS, serta pihak lainnya membuka ruang untuk berbagi pengalaman dan menyamakan pemahaman mengenai penanganan kondisi darurat di wilayah pesisir dan laut.
Bagi Pokmaswas, kemampuan memberikan respons awal dalam kondisi darurat merupakan bagian dari kesiapsiagaan ketika menjalankan aktivitas pengawasan. Peningkatan kapasitas tersebut diharapkan dapat membantu peserta mengambil tindakan awal yang cepat, tepat, dan aman sebelum bantuan dari petugas yang berwenang tiba di lokasi.
Antusiasme peserta juga terlihat selama rangkaian kegiatan.